Sumber: http://tanbihun.com/sosbud/opini/melaknat-tahlilan-mendukung-tahlil/#.UezN9mfVXD1

Aneh?!,
begitulah yang terjadi, Sebagian orang terjebak dalam istilah ambigu. so’al remeh-temeh menjadi alasan pertikaian. ketika tak mampu menangkap esensi dan hanya melihat kemasan lalu ramai-ramai berteriak sesaat!, Bid’ah!, Kafir!. mirip hikayah Saudagar kaya yang sembrono membantai kucing peliharaanya lantaran mendapati si kucing berlumuran darah. Sang saudagar mengira si kucing telah menyantap putra kesayanganaya, oh…padahal kucing itu baru saja berjibaku melawan ular yang hendak memangsa putra sang saudagar.

Adalah Tahlilan, acara seremonial yang masyhur di kalangan masyarakat itu oleh sebagian orang di nilai cacat hukum. menyelisihi sunnah Sang Junjungan. oleh karenanya pelakunya layak digelari Mubtadi’ ( pelaku bid’ah ). lebih dari itu sang pelaku juga terancam menghuni Jahanam. mengerikan bukan?.rame-rame mereka mencuri hak Tuhan semesta alam.

Tahlilan bukanlah Tahlil, begitu menurut mereka, sekalipun dalam Tahlilan ada Tahlil yang di rapal, ada baca’an Tahmid, Tasbih dan juga sejumlah Ayat dalam Al-qur’an. bahwa ada nilai silaturrahmi dan mempererat persaudara’an antar muslim dalam Tahlilan, toh tetap saja tidak menyurutkan langkah mereka untuk lantang mengatakan itu bukan Tahlil.

lalu dimana masalahnya?!. tentu saja masalahnya Rosulullah tidak melakukanya, lho,..apakah tiap sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah lantas menjadi haram?!, lagian siapa bilang Rosulullah tidak menganjurkan Silaturrahmi, berdzikir, shodaqoh?!…  ah pokoknya “Kullu bid’atin dholalah, Wa kulla dholalatin finnar”, habis perkara! masa bodoh apa itu bid’ah hasanah, bid’ah sayyi’ah.

Lagi menurut mereka, Tahlilan haram, karenanya keluarga mayit yang sedang berduka itu di repotkan dengan menyediakan hidangan, dalilnya tegas melalui Peristiwa gugurnya Ja’far bin Abi Thalib yang gugur di medan laga, waktu itu Rosulullah mewanti-wanti Sahabat agar membuatkan makanan untuk keluarga Ja’far yang miskin itu, bukan malah membebaninya.  maka lalu yang haram itu membebani Shohibul musibah ataukah tahlilan?!, lantas bagaimana jika tak ada hidangan, atau justeru warga yang gotong royong menghimpun sumbangan seperti kebiasaan orang takziyah ?!. oh.. ternyata hanya so’al teknis, oh.. ternyata benar itu haram tapi karena sebab.

Benarkah jika Tahlilan haram?, benar! jika diindikasikan membebani keluarga mayit. hmm.. kalau Tahlilan di Masjid-Mushola tiap malam jum’at, Tahlilan RT nan, Tahlilan di acara walimah, Tahlilan munfarid, Tahlilan keliling, kira-kira membebani siapa ya?!…

Tetap saja haram!, Nhawong jelas-jelas ini ada kaidah sakti; ” Segala ibadah itu asalnya haram, sampai tegaknya dalil yang memerintahkanya”. nah lo.. dapat di mengerti kan?!, mana itu dalilnya Tahlilan? Mana perintahnya?… Waduh, sebentaar.. apa ndak sebaiknya kaidah itu di kuliti dulu, apa iya mau di telan begitu rupa? eh.. bukanya syarat Kaidah kulli itu musti steril dari Dzon, Wahm, dan Syak didalam kalimatnya?. sementara menghukumi HARAM itu harus dengan dalil yang QOT’HI tsubut dan dhilalahnya bukan?!.

Padahal kaidah itu kalimat singkat yg meliputi jusz’iyah yang banyak, untuk membantu istinbath hukum. Bila dalam kaidah itu sendiri masih ada sesuatu yang tidak jelas, maka kehilangan fungsinya untuk mempermudah istinbath hukum. Bagaimana mau membantu istinbath hukum, kalau ia nya sendiri Ambigu?. Ibadah sendiri definisinya belum jelas, apa saja yang termasuk ibadah ?!…

Jika Sholat, puasa Ramadhan, Zakat, haji di pahami sebagai ibadah, maka itu benar  sesuai ka’idah di atas, harus Tauqufi, artinya mengikuti dalil dan contoh dari Nabi, tidak boleh asal melakukan maupun memodofikasi sendiri, haram hukumnya!, itulah yang disebut Ibadah Mahdhoh.

Lantas bagaimana dengan Ibadah ghoiru Mahdhoh?!, membangun sekolahan, membangun pesantren, mengelola yayasan, konsep walimahan, dsb. apakah iya nungguin contoh juga?!hmm.. bukanya mencumbu isteri juga termasuk ibadah?. wah…jangan-jangan “amunisi” Ka’idah inilah yang dijadikan senjata untuk membabat sesama?!.. atau jangan-jangan kurangnya ilmu dalam memahaminya. kalau begitu akan sampai kapan?!
Wallahu A’lam.
Sukorejo, 10 Pebruari 2012